Islam Dan Barat, Benturan Peradaban Atau Dialog Interkultural?

9 07 2008

Oleh: Mujahidin Nuryadi1

East is east and west is west and never the twain shall meet ( Kipling On Islamic World – Oxford press – 1973)”

Iftitah

Apabila kita berbicara tentang masa depan hubungan Islam dan Barat, maka kita tidak akan bisa untuk memberikan gambaran global tentang permasalahan ini tanpa adanya pijakan real terhadap sejarah yang telah dilewati oleh Islam dan Barat. Karena, realitas sejarah adalah cerminan masa depan dari sejarah itu sendiri, disamping membawa persepsi historis bagi keduanya- sehingga, gambaran sejarah masa depan pasti tidak akan jauh dari gambaran persepsi masa lalu dan realitas kekinian dari pelaku-pelaku sejarah (baca : Islam dan Barat).
Sebagai agama dan peradaban, Islam termasuk salah satu obyek penting studi dan riset yang digandrungi diberbagai Universitas-Universitas Barat, baik oleh orang Islamnya sediri maupun orang-orang non mulsim. Walaupun studi ketimuran (oriental studies )- termasuk didalamnya studi tentang agama-agama timur dan juga Islam sudah lama dipelajari dan dijadikan sebagai objek studi di Barat, namun hal tersebut rupanya tidak pernah bisa memberikan mereka pemahaman yang benar terhadap Islam, bahkan mungkin pembelajaran studi Islam disana selalu memberikan stigmatis dan asumsi pejoratif terhadap Islam itu sendiri ditengah-tengah masyarakat Barat, sehingga ,hubungan Islam dan Barat yang dahulu pernah mengalami masa harmonis , ideal dan kegemilangan bersama (disekitar Abad 17, sebagai indiksi sebutlah pada zaman Goethe). Di abad kini sejarah kedekatan lintas budaya Arab khususnya peradaban Islam dengan kebudayaan (baca juga: Peradaban) Barat masa lalu seakan terlupakan begitu saja, dan dalam perkembangannya, kemudian disubstitusi dengan korelasi budaya serta politik yang diwarnai ketegangan, saling mencurigai dan saling memusuhi.

Sebenarnya konflik dan ketegangan yang terjadi (atau dan sedang terjadi) antara Barat dan Islam selama ini merupakan kasus yang mengakar pada sejarah masa lalu dari kedua peradaban tersebut, sehingga mengakibatkan masing-masing saling mencurigai dan berusaha mengontrol satu satu sama lain. Islam menuduh Barat tidak pernah bisa memahami Islam atau mempelajari nilai-nilainya (Values) sehingga konsekuensinya selalu membawa hubungan mereka kedalam lokus yang akondusif, disamping menyebabkan terkurungnya hubungan mereka dalam sirklus emosi yang tinggi. Sebaliknya, Barat menuduh Islam sebagai agama yang eksklusif dan tertutup, bahkan agama yang rentan dengan tindak kekerasan, seperti terorisme dan semacamnya. Sehingga, masing-masing saling mempertahankan identitasnya (Struggle for identify) dan akumulasi dari semua kasus tersebut diatas ialah makin menjauhnya masing-masing kubu (baca: peradaban) dari titik persamaan, dan sikap saling memahami demi untuk terbukanya jalinan partnership yang ideal, untuk membangun peradaban supermasif yang didasarkan pada keunggulan serta keluhuran masing-masing nilai jauh dari yang diharapkan.
Pada tahap selanjutnya, ketegangan itupun semakin menguat dan memanas, dan menuai puncakya pasca peristiwa runtuhnya Pentagon dan WTC (World Trade Center) 11 September, yang mendorong dikeluarkannya RUU tentang Racial Hatred dan menjadikan cuaca AS makin memanas, kemudian suhu itu di sulut sambung Tony Blair dengan menjadikan Inggris sebagai USA’s Most Loyal Ally, kemudian seakan isi kepala George Walker Bush telah meledak-letup lahar, tak bisa menampung lagi kata “sabar”-bagai kilat terlintas sumpah dikepalanya; segera ingin meluluh-lantakkan akar teroris di kaki langit, tak lain sarang yang menakutkan itu adalah Afghanistan. Dan yang terlebih penting dari peristiwa itu adalah supremasi Amerika sebagai negara Super Power di depan masyarakat dunia telah ternodai.
Sesudah peristiwa itu dengan penuh amarah dan lantang George Walker Bush menyeru kepada seluruh masyarakat dunia untuk melakukan perang secara kolektif melawan sebuah kekuatan politik yang tidak mempunyai batasan teritorial maupun geografis, yang sering disebuat sebagai “War Againts Terorism” atau perang melawan terorisme. Sehingga meminjam istilah Phervez Hoodboy seorang profesor energi dan fisika di Universitas Quaid Azam Pakistan bahwa saat ini Amerika tengah melakukan apa yang ia sebuat sebagai “ Exacted blood revenge “ atau langkah balas dendam berdarah atas peristiwa 11/9 . Langkah balas dendam itupun dilakukan oleh administrasi Bush dengan melakukan serangan masif terhadap kekuasaan Taliban di Afganistan yang merupakan tempat bersarangnya jaringan terorisme Al-Qaedah. Pesawat penggempur B – 25 milik Amerikapun dikerahkan untuk menggempur dan melantakan pertahan organisasi ini dan memaksa Mullah Omar dan Usama Bin Laden untuk menyerah, Talibanpun akhirnya tumbang dengan kemenangan gemilang ditangan Amerika dan aliansinya.
Sekitar dua tahun kemudian Amerikapun melakukan hal yang hampir sama- yaitu melampiaskan balas dendamnya terhadap Irak dan menggulingkan rezim Sadam Husein yang dituduh sebagai Presiden yang diktator dan terlibat dengan jaringan Al-Qaedah. Ribuan masyarakat sipil menjadi korban dan jutaan penduduk negara tersebut mengalami nasib yang tidak menentu. Proses peralihan pemerintahan dari rezim Sadam Husein ke pemerintahan baru yang kurang representatif, karena prosesnya terlalu didominasi oleh pihak Amerika, tanpa melibatkan PBB atau Liga Arab sebagai organisasi induk negara-negara Arab, hal tersebut membuat kondisi masyarakat Irak makin menderita sehingga gelombang emosipun akhirnya berubah menjadi kekuatan masa.
Dampak dari semua kasus tersebut, telah membawa masyarakat dunia kedalam sebuah limbo transformasi, dan menggiring mereka secara kolektif kedalam alam labirin, pasca 11/9 kita seakan hidup pada dua dunia yang saling berbeda, sehingga kita mencurigai serta memusuhi satu sama lain, dan pada akhirnya kita hidup pada sirklus geopolitik dunia yang sangat mebahayakan stabilitas dan keharmonisan dunia itu sendiri. Mungkin saat ini kita perlu bertanya mengapa semua ini harus terjadi? Bagaimakah kondisi geopolitik kita sesudah peristiwa 11/9, terutama ketegangan antara Islam dan Barat? dan apakah tesis Samual P. Hungtinton The Clash of civilizations yang selama ini diprediksikan oleh para pundit memang benar-benar sudah terjadi?

Harmonisme, Sebuah Refleksi Sejarah.

Dalam sebuah simposium yang bertajuk Islam In The West, an Introduction yang diadakan pada tahun 2001 di Universitas Wales, Inggris. Dr Gary R. Bunt mengatakan bahwa transformasi ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang dilakukan terhadap nilai dan peradaban masyarakat muslim dahulu telah memberikan pengaruh formatif terhadap tatanan nilai dan peradaban Barat saat ini4, sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa Islam mempunyai andil yang sangat besar sekali dalam pembentukan cikal bakal peradaban dan kebudayaan Barat saat ini.
Sejarah telah mencatat betapa Barat dan Islam dimasa lalu telah menjalin hubungan yang sangat erat dan harmonis dalam pembentukan interaksi global untuk menuju kemajuan peradaban manusia secara universal. Hal tersebut ditandai dengan berbagai kerjasama yang telah mereka lakukan diberbagai bidang kehidupan, terutama kerjasama budaya dan transformasi ilmu pengetahuan.
Sebenarnya apabila kita benar-benar konsen dan intens mempelajari sejarah dan peradaban masa lalu, mungkin kita akan shock, sebab ternyata jauh-ketika bangsa-bangsa Eropa masih dalam kegelapan dan barbarianisme, justru bangsa-bangsa Timur (baca: Islam) telah memulai mengadakan pelayaran ke berbagai belahan penjuru dunia dan telah melakukan berabagai macam riset ilmiah terhadap berbagai macam jenis Ilmu dan tekhnologi, disamping saat itu juga mereka sudah menjalin kerjasama yang intensif dengan bangsa-bangsa lain dibelahan dunia. Sesudah masa aufklarung merambah bangsa-bangsa Eropa kajian keislamanpun mulai dikenal dan pelajari disana, sehingga manakala perang salib usai kesempatan untuk mengkaji secara intensif dan mendalam terhadap Islam dan peradabannya terbuka lebar5.
Secara global hubungan antara peradaban Barat dan Islam mungkin bisa diklasifikasikan kedalam tiga fase, hal tersebut didasarkan pada sejarah yang telah dilalu oleh kedua peradaban tersebut :
Fase Pertama, fase ini ditandai dengan pengaruh yang diberikan oleh peradaban Barat terhadap peradaban Islam pada masa kholifah Abasiyah. Bisa dikatakan bahwa Kholifah Abasiyah adalah Kholifah yang paling terbuka terhadap peradaban lain, hal tersebut digambarkan oleh Ibnu Rusd dalam bukunya yang berjudul ‘The Compilations Of Averoes’. Menurut Ibnu Rusd keterbukaan yang dialami dalam masa Kholifah Abasiyah ini dikarenakan oleh nasehat-nasehat para ilmuwan dan fatwa-fatwa para ulama yang mengatakan bahwa dinamisme kehidupan akan timbul manakala kita sudah bisa mengambil kebaikan sebagai prinsip dan pedoman hidup dan meninggalkan kesalahan sebagai pelajaran dan cerminan dari hidup itu sendiri, dan kita juga harus menyadari bahwa kebenaran mungkin tidak selalu dimiliki dan diciptakan oleh orang Islam.
Pertemuan peradaban Islam dan Barat secara langsung terjadi di Andalusia dan Shokaliyah (baca: Sapanyol), peradaban Barat disana benar-benar telah memberikan warna tersendiri dalam interaksinya dengan peradaban Islam klasik baik itu dalam bidang keilmuan ataupun keagamaan, interaksi kedua kebudayaan itupun makin erat dan kental manakala masa Khalifah Abasiyah. Pada masa kekhalifan ini banyak sekali kontribusi yang telah diberikan terhadap terjalinnya interaksi yang harmonis antar peradaban Arab-Islam dan Barat, hal itu ditandai dengan berdirinya Universitas Navoli yang kemudian menjadi tempat belajarnya Thomas Aquino. Disamping Khalifah Abasiyah yang membantu penyebaran budaya Arab-Islam di Barat perlu juga disebut- disini andil- yang telah diberikan oleh raja Fraderik yang telah mengkontribusikan manuskrip-manuskrip Arab-Islam kepada universitas Oxford dan juga Universitas Paris, proses inipun berlangsung turun temurun dan berkesinambungan sampai pada raja-raja sesudah Frederik. 6
Perlu disebut disini bahwa masa sesudah raja Fraderik dan anak-anaknya proses transformasi budaya dan ilmu pengetahuan diwarnai dengan berdirinya departemen transelarasi yang dibangun pada masa raja Raymaond dan raja Dominique, lembaga ini telah banyak mentranselarasi manuskrip-manuskrip Arab mengenai kajian-kajian filsafat dan ilmu-ilmu alam kedalam berbagai bahasa dan yang terpenting dari semua itu adalah berhasilnya lembaga ini mentranslerasikan Al-Quran kedalam bahasa Latin pada tahun 1143. Sesudah itu dunia translerasi makin familiar dan menyebar di dunia ilmuwan di Barat bahkan ada beberapa lembaga pendidikan yang menjadikan translarasi sebagai dasar ilmu filosofis.
Menurut Carriford dalam riset ilmiahnya tentang Ibnu Rusdy pada masa pertengahan Eropa dan ditambahkan oleh Raymond dalam bukunya “Ibnu Rusd And Rusdian controversy “, mereka mengatakan : “ Bahwa pemikiran Ibnu Rusd saat itu telah banyak memberikan warna dalam peradaban masyarakat Eropa dan pembikinan prinsip kebebasan dan demokrasi disana.
Fase Kedua, Fase ini dalam perjalanan hubungan antara Islam dan Barat diawali oleh invasi militer yang dilakukan oleh Perancis terhadap wilayah teritorial Mesir pada akhir abad ke 18, pada masa itu sebenarnya negara-negara Timur sudah mengenal dunia Barat, tetapi sayang tidak banyak manfaat yang bisa diambil oleh dunia Timur saat itu terhadap Barat, kecuali beberapa buku karangan Napolean Bonaparte dan beberapa ilmuwan lainnya berkenaan dengan studi kemesiran dan pendirian tempat-tempat riset ilmiah yang masih berdiri sampai sekarang.
Pada awal abad 19 ekplorasi budaya dan peradaban Eropa makin rentan dilakukan pada masa Ali Pasya, masa ini ditandai dengan pengirimian beberapa mahasiswa untuk mengkaji berbagai macam disiplin keilmuwan yang dipimpin oleh Toha Husain dari pihak al-Azhar. Dan mereka inilah kemudian yang menjadi pinoir pembaharuan di dunia Timur pada umumnya dan Mesir pada khususnya, bahkan karena kecerdasan dan keberilianan pikirannya Toha Husain pada masa itu telah berhasil mempertemukan dua peradaban dalam satu titik sentral.
Fase ketiga adalah masa moderenisme, fase ini ditandai dengan gelombang modernisme dan revolusi humanisme yang melanda Eropa dan beberapa negara Islam saat itu, dalam fase ini masyarakat muslim terbagi menjadi dua golongan: yang pertama adalah mereka yang mengadopsi aturan nilai dan etika dari masyarakat Barat tanpa melalui proses pemikiran dan eksepsi (taken for granted) dan yang kedua adalah golongan masyarakat yang mengadopsi aturan nilai dan etika berdasarkan pertimbangan benefisial dan kecocokan terhadap komunitas mereka, golongan kedua ini bisa dikatakan lebih berhati-hati dan selektif dalam melakukan akulturasi budaya dengan Barat, bahkan mereka berusaha untuk mengkombinasikan dua alur kebudayaan yang saling berbeda tersebut untuk dipertemukan kedalam sebuah titik ideal dengan melakukan kritik ilmiah dan kajian konstruktif 7.

Perang Salib dan Fantasi Sejarah Modern.

Barat pernah mengalami kekalahan fatal dalam beberapa kali perang salib yang berlangsung lebih kurang dua abad lamanya (10961 – 1291 M), pada perang salib pertama (1096 – 1009 M) Barat mengalami kemenangan – tetapi pada perang salib II sampai VII tentara Islam menang gemilang, sehingga tidaklah mustahil Barat mewariskan dendam kusumat terhadap umat Islam untuk membalas kekalahan mereka, hal tersebut terlihat dengan banyaknya politisi dan pundit di Barat yang sering menyulut sentimen keagamaan dan berefek pada kebencian terhadap Islam dan kaum muslimin.
Dalam sebuah buku berjudul “The Rage and The Pride“ yang ditulis oleh Ariana Fallaci, salah seorang penulis muda di Amerika – yang dengan lantang dan jelas mengingatkan bahwa saat ini masyarakat muslim tengah melakukan reversi (baca: pengulangan) kemenangan perang salib terhadap Barat dengan tujuan inti menaklukan Barat (Conquest of the west). Penyerangan terhadap WTC dan Pentagon menurut dia adalah seperti Pearl harbor dari permulaan perang salib tersebut. Serangan tersebut adalah perang atas nama agama, sebuah perang yang dia sebut kedalam terminasi Jihad dijalan Allah, selanjutnya Arriana menambahkan kita harus mempertahankan dignitas kita dan memerangi mereka kalau tidak Jihad nanti akan mengalahkan kita, Jihad akan menguburkan kultur kita, seni kita, identitas kita, ilmu pengetahuan kita dan juga kesenangan kita. Eropa nanti bukanlah Eropa lagi tetapi ia adalah bagian dari propinsi Islam dan Amerika suatu saat nanti bukanlah Amerika lagi tetapi akan menjadi kepulauan Islam dan dibawah kekuasaan muslim. Mereka akan membentuk sebuah pemerintahan yang dipenuhi dengan Imam-imam, Masjid, dan juga para mullah serta bermasyarakatkan 16 miliun imigran muslim dan diitari oleh teroris-teroris Islam yang tidak bisa diidentifikasi oleh pemerintahnya 8.
Sehingga patutlah direnungkan kembali sejauh mana Barat dalam hal ini khususnya Amerika menyikapi sejarah masa lalu tentang peristiwa pahit yang telah dialami dalam perang salib. Apa yang dikatakan Bill Clinton ketika dia masih menjabat sebagai presiden Amerika, bahwa Barat sebenarnya tidak mempunyai masalah sama sekali dengan Islam, kalaupun saat ini terlihat ada masalah itu bukanlah sama Islam, melainkan pada pergerakan fundamentalisme Islam 9, tetapi kenyataannya sangatlah tidak relevan kalau tidak bisa diktakan sangat kontradiktif dengan realitas yang ada, karena selama ini Barat selalu berusaha menghembuskan permusuhan terhadap Islam dengan politik keberpihakannya terhadap masyarakat Israel yang jelas-jelas sangat melukai umat Islam.
Selama 14 kurun interaksi Barat (baca ; Kristen Katolik atau Ortodok) dan Islam sangatlah tidak ideal karena satu sama lain merasa asing dalam interaksi tersebut. Benturan antara demokrasi liberal dengan Markisme-Leninisme dalam abad 20 – an tidaklah separah dan sepanjang perseteruan dan benturan yang mendalam antara Islam dan kristen 10. Sehingga wajar kalau opini publik dunia sesudah 11/9 membayangkan bahwa inilah yang disebut sebagai perang salib modern antara Islam dan Barat seperti juga dituliskan oleh Ariana Fallaci, akibatnya, keharmonisan hubungan yang selama ini dijalankan oleh Islam dan Barat teryata hanya harmonitas kamoflase dan artifisial, didalamnya masing-masing kubu masih saling mengawasi , mencurigai dan membenci .
Bahkan lebih dari itu Barat (baca: Amerika ) dengan politik double standar-nya telah jelas-jelas melukai hati masyarakat muslim dunia dengan ambisi hegemonitas dan pengkontrolan kekuatan dunia Islam, Barat memang tengah bermain fantasi didunia modern dengan pengalaman pahit perang salib. Hal tersebuk makin transparan manakala George Walker Bush dengan bahasa yangsarat dengan emosi dan dendam menggunakan kata Crusade untuk menyebut peperangan yang akan dilakukan oleh Amerika dalam memerangi terorisme.

Islam Dan Barat Paska 11/9.

Tatanan geopolitik dunia sesudah peristiwa 11/9 mengalami fase baru yang sangat signifikan dan revolutif, para pundit dan kalangan akademis sudah tidak segan-segan lagi memprediksikan apa yang akan terjadi sesudah kasus berdarah ini, – The end of history, sebuah terminasi eksentrik Francis Fukyama – sebagian mereka menyimpulkan-nya dan ada juga sebagian lain yang mengatakan bahwa – The Clash civilizations – yang selama ini digembar-gemborkan oleh Samuel P. Huntington memang benar-benar telah terjadi. Pergolakan antar suku, ras , agama dan negara seakan telah mewarnai perpolitikan global kita saat ini, sehingga berefek pada kemunduran Nation state dikarenakan warna konflik tribalisme global yang melanda masyarakatnya, dan terutama hal itu terjadi di dunia Islam dan Barat sebagai “pelaku” konflik tribalisme tersebut tanpa menyadari apa yang akan mereka tuai dari perseteruan itu.
Paska kejadian tragis 11/9, yang merupakan drama terorisme yang paling dahsyat dan memilukan dalam perjalanan sejarah manusia – parade politik telah banyak diwarnai oleh rasa takut, kebencian dan balas dendam yang dilakukan oleh masing-masing kubu (Baca: Barat dan Islam), alat politik yang ada digunakan bukan untuk menciptakan iklim politik yang lebih kondusif, bersahaja dan penuh kedamaian tetapi 11/9 telah memberikan instrumen pada mereka untuk menggelar politik oportunisme dan unilateralisme yang sudah tidak lagi mengindahkan tatanan globab. Oleh karena itu sudah saatnya bagi kita untuk tersadar dari keterbiusan sejarah hitam yang selama ini telah banyak mengorbankan masyarakat sipil tak berdosa untuk kemudian sama-sama merumuskan konklusi permasalahan yang pelik ini dengan cara yang lebih bijak , baik dan solusif, bukan dengan anarkisme, premanisme ataupun terorisme11. Karena hal tersebut tidak akan pernah bisa menyelesaikan permasalahan, justru akan lebih memperburuk keadaan. Oleh karenanya kita sangat meyayangkan sekali agresi militer yang dilakukan oleh Amerika terhadap negara-negara muslim beberapa waktu terakhir ini. Imprealisme modern yang saat ini digelar oleh Barat dengan menancapkan hegemoninya terhadap dunia Islam dengan mengatas namakan perang melawan terorisme adalah merupakan penghianatan terhadap konvensi PBB tentang penyelesaian konflik paska perang dingin, disamping hal tersebut akan merusak sistim multilateralisme dan penghancuran tatanan politik dunia.
11/9 memang telah memberikan ruang gerak yang luas bagi Amerika untuk melangkahi tatanan geopolitik kita dan bergerak melakukan kolonialisme terhadap dunia Islam, atas nama perang melawan terorisme washington seakan bebas memerangi negara-negara Islam yang ia anggap menjadi sarang terorisme, disamping Bush juga mengangkat isu senjata penghancur masal (Weapons of mass destruction) dan menuduh beberapa negara yang notabene mayoritas berpenduduk muslim sebagai poros kejahatan atau poros setan (Axis of evi ) demi untuk mewujudkan ambisi kaum barbar modern seperti yang dikatakan oleh Naom Chomsky 12.
Secara resmi atau tidak resmi kebencian Barat terhadap Islam dan kaum muslimpun makin kentara ditampilkan secara jelas oleh Amerika dan aliansinya dalam menyikapi gejolak politik dengan negara-negara muslim di timur tengah, kebencian yang sebenarnya hanya bersumber pada tuduhan-tuduhan tak beralasan terhadap Arab-muslim, karena mereka dianggap sebagai disiden pelaku pemboman WTC dan Pentagon atau karena perbedaan visi politik negara-negara arab disatu sisi dan administrasi gedung putih disisi lain dalam menyikapi perang melawan teorisme paska 11/9, yang dalam perjalanannya menimbulkan tanda tanya didalam masyarakat Arab dan kaum muslimin, karena, permaslahan perang melawan terorisme sudah jauh sekali melewati batas kewajaran sehingga menampilkan kebencian Barat yang mendalam terhadap kaum muslimin atau lebih dari itu Barat menganggap Islam dan kaum muslimin sebagai musuh yang selalu harus diperhitungkan 13.

Islam dan Barat Konfrontasi Atau Dialog?

Manakala perang dingin antara blok Barat dan timur berlangsung Barat sangat erat sekali menjalin hubungan dengan Islam untuk melawan Uni Soviet dan ideologi komunismenya. Barat sangat yakin bahwa Islam dan komunisme tidak akan pernah bisa bersatu, karena itu sangatlah beruntung untuk menjalin hubungan dengan negara-negara muslim dalam menyelesaikan masalah ini. Tetapi sesudah runtuhnya Komunisme yang bebarengan dengan tumbangnya Uni soviet, hubungan politik Islam dan Baratpun berhenti sampai disitu ,bahkan Barat melangkah untuk mencari musuh pengganti ideologi komunisme yang runtuh, dan mereka tidak mempunyai musuh lain kecuali Islam. Dari sini bisa terlihat seakan Barat memang tidak bisa hidup tanpa musuh, dan apabila mereka tidak mempunyai musuh yang real maka mereka menggambarkan musuh imajenatif dan musuh imajenatif Barat saat ini adalah Islam.14
Islam dianggap sebagai agama pengancam terhadap eksistensi dinamisme kepercayaan dan agama lain, Samuel P. Huntington dengan jelas-jelas menyatakan kepada masyarakat dunia bahwa peradaban Barat saat ini terancam keeksistensiannya oleh peradaban dan agama Islam, karena itu samuel huntigton menganjurkan masyarakat Barat untuk menyikapi permaslahan ini dengan serius 15, dan sejak itupun fase politik Barat berubah drastis dan cenderung memusuhi Islam, sehingga Islamphobia atau ketakutan terhadap Islam seakan membayangi kehidupan masyarakat Barat dan mempengaruhi setiap kebijaksanaan luar negri mereka terhadap negara-negara muslim.
Pembahasan tentang fundamentalisme Islam, terorisme Islam dan bahaya yang mengancam peradaban Baratpun mulai didiskusikan didalam forum-forum resmi maupun non resmi, tetapi sejauh ini bukan solusi yang dihasilkan malah menambah ketegangan dan kebencian Barat terhadap Islam, karena Barat selalu salah dalam memahami psikolgogi umat Islam. Secara terbuka hal tersebut diakui oleh Graham Fuller dalam paper-nya yang berjudul “Islamic movements and western interests ; Strategic imperatives” ia mengatakan bahwa kebijaksanaan luar negri Barat ( baca : Amerika ) sangat dominan dipengaruhi oleh implikasi gerakan Islamis terhadap proyek setrategis-imperatif Barat, diantaranya keselamatan Israel, akses terhadap pasaran global timur tengah dan juga penguasaan minyak, bahkan lebih frontal lagi Athony Sullvian mengatakan walaupun kadang Barat berbeda visi dalam beberapa permsalahan krusial dengan kalangan Islamis, Barat akan berusaha untuk melakukan tindakan koperatif selama tidak menggangu nilai-nilai tradisi sosial dan tidak menggangu kepentingan Barat di timur tengah .
Dalam sirkulasi politik seperti ini dialog seakan tidak bisa sama sekali untuk bisa menjembatani kedua peradaban tersebut dan mempertemukan mereka dalam sebuah titik mutual understanding yang saling menguntungkan dan membangun sehingga kemungkinan terjadinya konfrontasi antara dua belah pihak akan lebih kecil dan tertutup. Tetapi apabila politik double standard yang selama ini diterapkan oleh Barat dalam menyelesaikan kekisruhan politik ditimur tengah masih saja diterapkan yakinlah bahwa dialog dan perdamaian hanyalah mimpi ilusif untuk tercipta ditimur tengah, karena sebenarnya konfrontasi yang selama ini akut antara Israel dan Palestina, permasalahannya bukan pada Israel itu sendiri tetapi pada kebijaksanaan politik Washingtong yang senantiasa cenderung berpihak pada Israel .16

Dialog peradaban atau benturan peradaban?

Artikel Samuel P. huntington – The Clah Of Civilizations – yang dipublikasikan oleh foreign affairs pada tahun 1993 benar-benar telah menjadi buah bibir masyarakat dunia, kritikan pedas dan tanggapanpun datang dari berbagai kalangan terhadap thesis tersebut. Thesis huntington yang menurut kebanyakan pundit berusaha untuk mensuplai Amerika dengan thesis orsinil tentang ‘fase baru’ perpolitikan dunia sesudah perang dingin berakhir,merupakan thesis yang terlalu memaksakan diri dan tidak berdasar pada sejarah dan realitas , Huntington bagaikan seorang penghayal besar dengan lantangnya mempublikasikan thesis barunya tentang Civilization identity yang didasarkan nosi yang terlalu vague (baca: samar) , selanjutnya dalam pergumulan mencari identitas tersebut, interaksi masing-masing peradaban yang terdiri dari delapan atau sembilan peradaban dunia akan mengalami Clash of civilizations, yaitu antara peradaban Barat dan Islam 17.
Apa yang dikatakan Huntington, dengan thesisnya tentang kemungkinan adanya The Clash Of Civilizations atau benturan peradaban antara peradaban Barat – Kristen dengan peradaban Arab – Islam sangatlah tidak benar dan terlalu mengada-ngada, karena dalam konteknya peradaban Kristen timur secara umum dan Arab secara khusus dalam perjalanannya tidak terjadi pertentangan dalam pembentukan peradaban Arab-Islam, karena dalam keeksistensian peradaban Kristen terdapat peran peradaban Islam yang sangat luas dan begitu juga sebaliknya dalam pembentukan peradaban islam kristen mempunyai peran yang tidak bisa disepelehkan 18, dan dalam posisi seperti ini sangatlah mustahil terjadi benturan antar peadaban Barat dan Islam yang mempunyai akar peradaban yang sangat kuat dalam kebersamaan. Karena itu thesis benturan peradaban Huntington tidak lain adalah tafsir golongan intelektual extrim dan rasialis seperti halnya orientalis veteran Bernard louis atau teoris Francis fukuyama dengan The End Of History-nya, karena pluralitas dan kemajemukan peradaban tidaklah akan membentuk sebuah benturan peradaban tersebut tetapi justru akan makin memperkaya peradaban itu sendiri.
Mungkin Huntington seperti Bernard Louis tidak pernah bisa menyadari bahwa setiap peradaban manusia mempunyai dua aspek yang selalu beriringan: pertama adalah aspek universalis dan kedua adalah aspek partikularis, aspek pertikularis adalah aspek yang menjadi kendaraan atau alat Self identity (identitas pribadi), self afirmation (afirmasi pribadi) dan autonomi. Sedangkan aspek universalis adalah aspek yang menjadi common share antara the self dan the other dan menjadi Solvitur in Ecselsis yang menjadi tujuan bersama untuk kemajuan aspek humanitas, dan relasi antara aspek partikularis dan universalis ini digambarkan sebagaimana relasi antara permanenisme dan kontemporerisme, yang saling membutuhkan dan berkaitan satu sama lainnya 19.

Peradaban, yang Mengarah Dialog.

Persepsi Amerika terhadap dunia Arab dan umat muslim selalu mempunyai image dan bayangan negatif, baik itu pada agama, penganut, budaya dan juga kepemimpinannya, sehingga bisa dikatakan bahwa masyarakat Islam sejak masa ansien secara historis sudah menjadi rival dan kompetitor bagi peradaban Barat, hal ini terjadi karena dilatar belakangi oleh persepsi historis yang hitam diantara keduanya. Dalam masa Arab – Islam modernpun, peradaban Islam dan Arab mengalami era dekolonialisasi yang dalam benak masyarakat Barat merupakan peradaban yang membawa implikasi antagonistik terhadap peradaban mereka sehingga mereka beranggapan bahwa pada suatu saat nanti Islam akan menjadi imprealis peradaban Barat, hal tersebut menjadikan mereka apriori dan teridap penyakit phobianisme terhadap Islam yang merupakan unsur tertutup dan alotnya dialog peradaban diantara kubu Islam dan Barat, karena selama persepsi stigmatis masih membayangi masyarakat Barat saya yakin dialog peradaban hanya akan menjadi alur monolog yang panjang, membosankan dan membodohkan masyarakat kedua kubu. Dalam tataran realitas dialog tersebut tidak akan bisa membuahkan hasil yang berarti.
Untuk menciptakan dialog yang kondusif dan produktif, hendaknya masing-masing peserta dialog sealur dalam satu tema yang logis dan rasional serta membersihkan segala mosi mereka dari unsur-unsur parsial dan kepentingan rasial yang akan merugikan keberlangsungan dan keutuhan dialog tersebut, sehingga peradaban sebagai sebuah model dialog interkultural akan tercipta.
Menurut Hasan Hanafi model dialog seperti ini akan terlaksana apabila masing-masing peradaban berada dalam tataran yang equal, karena pada dasarnya masing-masing peradaban adalah produk sejarah yang mengakar, peradaban adalah kreasi manusia yang dengannya manusia mempunyai identitas dan image diri. Dan apabila manusia sama-sama berada dalam tataran equal dalam nilai-nilai peradabannya (baca: values of civilization) maka kultur sebagai produk nasional akan mempunyai kesamaan nilai dinatara manusia tersebut 20.
Dalam model dialog peradaban, korelasi antar peradaban bukanlah korelasi unilateral tetapi lebih menampilkan korelasi multilateral, masing-masing peradaban bisa memberi-menerima dan masing-masing mereka bisa saling memahami dan memberikan manfaat. Pembelajaran dalam model ini merupakan proses yang terjadi antara dua disipel (baca: disciples) yang saling memperkaya dan saling membentuk kreatifitas kolektif 21.

Ihtitam.

Untuk menutup urain ini saya ingin mengutip sebuah interview bersama Estofll Mani – Italia – dan Naom chomsky, Chomsky mengatakan bahwa perubahan geopolitik terbesar yang dialami oleh dunia sesudah perang 1812 M adalah runtuhnya tembok Berlin dan gerakan terorisme 11/9 yang telah membawa dampak begitu besar pada kebijaksanaan luar negri Gedung Putih terhadap negara-negara Islam khususnya dan negara-negara Timur Tengah (middle east) pada umumnya.
Kejadian itu merupakan permasalahan baru dalam tatanan perpolitikan dunia saat ini dan bagi Amerika hal ini merupakan sesuatu yang baru sejak perang Amerika pada tahun 1812, sehingga banyak para analis dan pengamat politik yang mengkomparasikan serangan terorisme ini dengan serangan Pearl Harbor 22, hal tersebut selain memicu ketegangan yang selama ini menyelimuti Islam dan Barat sesudah “Red satan “ – Uni soviet tumbang, 11/9 juga telah membawa implikasi politik yang sangat tajam terhadap negara – negara Arab – Islam , hal ini jelas, merupakan tantangan baru bagi dinamisme dialog yang selama ini dilakukan antara Barat dan Timur, dan terciptanya hubungan multilateral yang lebih harmonis dan ideal, cara Barat dalam merespond gerakan terorisme sangatlah menentukan prospek hubungan Arab – Islam dan Barat dimasa mendatang, dan ini menurut saya merupakan tantangan yang lebih global dan fundamental bagi terciptanya mutual understanding antara Barat dan Islam, dari pada sekedar membrangus terorisme yang dilakukan Barat dengan sikap politik yang membabi buta seperti yang saat ini dilakukan Amerika.
Harus diakui bahwa proses perjalanan sejarah dan hubungan antara Barat dan Islam sebagaimana saya singgung diatas sangatlah diwarnai oleh persepsi sejarah masa lalu dan kasus-kasus kekinian yang terjadi diantara keduanya.Tetapi walaupun begitu saya sangat optimis kalau persepsi tersebut tidak akan membentuk sebuah kekuatan yang mengkristal dalam sejarah modern sejarah peradaban modern dan membangun ideologi baru dimasa mendatang.Karena, sistim politik multilateral dalam tatanan geopolitik kita yang akhir-akhir ini terlalu kuat diwarnai oleh pertarungan ideologi,baik itu Barat ataupun Islam itu sendiri, telah memberikan kesadaran terhadap masyarakat dunia akan pengalaman sejarah bahwa ideologi hanyalah gambaran abstrak manusia yang kadang tidak berpijak pada tataran realitas dari sebuah tatanan sosial, sehingga benturan peradaban akan sangat kecil kemungkinannya terjadi dalam tatanan geopolitik kita saat ini23.
Dari situ semestinya kita sadar bahwa kita berpijak pada bumi yang sama , menyelam pada lautan yang sama, baik itu Barat-Kristen atau Arab Muslim, dan kalau memang air yang kita renangi adalah bagian dari lautan historis yang satu, mengekploitasi air tersebut atau membatasinya dengan garis-garis ideologi seperti yang dilakukan oleh Fukuyama, Huntington atau Bernard Louis adalah sebuah perbuatan kriminal tersendiri dalam lautan sejarah peradaban manusia yang akan melumpuhkan fungsi dialog antar peradaban.
Sejatinya perbedaan diantara kita dapat membentuk kita dari keterkungkungan hostilitas menuju bentuk korelasi harmonis serta pertnership yang saling membangun, perbedaan — seharusnya menyadarkan kita dari ketertutupan sikap menuju keterbukaan pandangan dan dari ideologi ekslusif menuju sebuah ideologi universal yang lebih inklusif, sehingga perbedaan tidak membawa kita kedalam Clash of Civilizations, seandainya hal tersebut bisa dilakukan Oleh Barat dan Islam saya yakin stabilitas geopolitik dunia dimasa depan akan lebih menjamin harmonisme, stabilitas dan keidealan bagi keduanya,
Akhirnya meminjam kalimatnya Edawrd Said, mungkin lebih baik bagi kita saat ini untuk sama-sama berpikir tentang terminasi komunitas yang superior dan inferior, politik sekuler dan ignoransi atau prinsip keadilan universal dan kelaliman masal dari pada kita berpikir tentang abstraksi mega besar yang sering berimplikasi pada kesenangan sementara tetapi sama sekali tidak mengandung ilmu pengetahuan serta informasi analitif (Seperti yang dilakukan oleh Samuel P Huntington, Bernard Louis atau Francis Fukuyama). Thesis benturan peradaban yang dikonsep oleh bernard louis dalam The Root of Muslim Rage dan Samuel huntington dalam The Clash Of Civilizations adalah sesuatu yang gimik dan terlalu rasialis, mereka berilusi, tak ubahnya seperti anak-anak yang sedang bermain kata-kata. Dan apakah sesuatu yang gimik dan ilusif bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah untuk menggambarkan realitas masa depan peradaban manusia? Saya yakin kita akan sepakat dengan jawaban tidak !, dan mungkin menurut saya “ tidak “ itulah kata terbijak untuk menutup goresan singkat tentang masa depan kondisi Geopolitik dunia saat ini.Wallahu ‘alam.***
_________________
ENGKAU MENGINGINKAN KEMESUMAN MASA MUDAMU, WAKTU ORANG MESIR MEMEGANG-MEGANG DADAMU DAN MENJAMAH-JAMAH SUSU KEGADISANMU.” (Yehezkiel 23:1-21)

Sumber: www.indonesia.faithfreedom.org


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar