Islam Dan Barat, Benturan Peradaban Atau Dialog Interkultural?

9 07 2008

Oleh: Mujahidin Nuryadi1

East is east and west is west and never the twain shall meet ( Kipling On Islamic World – Oxford press – 1973)”

Iftitah

Apabila kita berbicara tentang masa depan hubungan Islam dan Barat, maka kita tidak akan bisa untuk memberikan gambaran global tentang permasalahan ini tanpa adanya pijakan real terhadap sejarah yang telah dilewati oleh Islam dan Barat. Karena, realitas sejarah adalah cerminan masa depan dari sejarah itu sendiri, disamping membawa persepsi historis bagi keduanya- sehingga, gambaran sejarah masa depan pasti tidak akan jauh dari gambaran persepsi masa lalu dan realitas kekinian dari pelaku-pelaku sejarah (baca : Islam dan Barat).
Sebagai agama dan peradaban, Islam termasuk salah satu obyek penting studi dan riset yang digandrungi diberbagai Universitas-Universitas Barat, baik oleh orang Islamnya sediri maupun orang-orang non mulsim. Walaupun studi ketimuran (oriental studies )- termasuk didalamnya studi tentang agama-agama timur dan juga Islam sudah lama dipelajari dan dijadikan sebagai objek studi di Barat, namun hal tersebut rupanya tidak pernah bisa memberikan mereka pemahaman yang benar terhadap Islam, bahkan mungkin pembelajaran studi Islam disana selalu memberikan stigmatis dan asumsi pejoratif terhadap Islam itu sendiri ditengah-tengah masyarakat Barat, sehingga ,hubungan Islam dan Barat yang dahulu pernah mengalami masa harmonis , ideal dan kegemilangan bersama (disekitar Abad 17, sebagai indiksi sebutlah pada zaman Goethe). Di abad kini sejarah kedekatan lintas budaya Arab khususnya peradaban Islam dengan kebudayaan (baca juga: Peradaban) Barat masa lalu seakan terlupakan begitu saja, dan dalam perkembangannya, kemudian disubstitusi dengan korelasi budaya serta politik yang diwarnai ketegangan, saling mencurigai dan saling memusuhi.

Baca entri selengkapnya »





Bangsa Tangguh ”Ala Indonesia”

24 02 2008

Tulisan bergaya esaik, dengan nada satiris menjadi andalan sekaligus ciri khas Radhar Panca Dahana, termasuk buku yang merupakan kumpulan esai berjudul “Inikah Kita – Mozaik Manusia Indonesia” ini. Beragam pengertian dan gagasan yang terpecah, dirangkum dan diilustrasikan dalam kanvas bernama Indonesia, hingga jadi mozaik warna-warni. Entah sudah sesuai dengan kaidah seni rupa atau tidak, itu tidak penting. Yang terpenting ungkapan kegelisahan dan kebuntuan pikir bisa terapresiasikan secara lebih santun dan konstruktif.

Indonesia, layaknya bangsa-bangsa Asia lain, dalam mitologinya selalu mengunggulkan bangsa Arya. Yang nota bene bukan nenek moyang kita. Mulai epos Ramayana yang mampu menundukkan Rahwana (Sri Alengka), David dan Goliath, sampai cerita Ajisaka yang mengalahkan Prabu Dewata Cengkar. Epos-epos tersebut menggambarkan kekalahan-kekalahan penguasa lokal dan kemenangan bangsa kulit terang (Arya). Cerita-cerita kekalahan ini tentunya mengendap dalam alam bawah sadar kita. Meskipun kita tahu bahwa sejarah, mitologi, dan dongeng tersebut adalah milik kelompok pemenang dan dominator. Pecundang selalu diilustrasikan sebagai barbar, buruk rupa, bengis, serta bersifat demonis. Pemenang adalah seorang yang tampan, cakap, bijak, dan harus sakti mandraguna.

Baca entri selengkapnya »