Oleh: Mujahidin Nuryadi1
“East is east and west is west and never the twain shall meet ( Kipling On Islamic World – Oxford press – 1973)”
Iftitah
Apabila kita berbicara tentang masa depan hubungan Islam dan Barat, maka kita tidak akan bisa untuk memberikan gambaran global tentang permasalahan ini tanpa adanya pijakan real terhadap sejarah yang telah dilewati oleh Islam dan Barat. Karena, realitas sejarah adalah cerminan masa depan dari sejarah itu sendiri, disamping membawa persepsi historis bagi keduanya- sehingga, gambaran sejarah masa depan pasti tidak akan jauh dari gambaran persepsi masa lalu dan realitas kekinian dari pelaku-pelaku sejarah (baca : Islam dan Barat).
Sebagai agama dan peradaban, Islam termasuk salah satu obyek penting studi dan riset yang digandrungi diberbagai Universitas-Universitas Barat, baik oleh orang Islamnya sediri maupun orang-orang non mulsim. Walaupun studi ketimuran (oriental studies )- termasuk didalamnya studi tentang agama-agama timur dan juga Islam sudah lama dipelajari dan dijadikan sebagai objek studi di Barat, namun hal tersebut rupanya tidak pernah bisa memberikan mereka pemahaman yang benar terhadap Islam, bahkan mungkin pembelajaran studi Islam disana selalu memberikan stigmatis dan asumsi pejoratif terhadap Islam itu sendiri ditengah-tengah masyarakat Barat, sehingga ,hubungan Islam dan Barat yang dahulu pernah mengalami masa harmonis , ideal dan kegemilangan bersama (disekitar Abad 17, sebagai indiksi sebutlah pada zaman Goethe). Di abad kini sejarah kedekatan lintas budaya Arab khususnya peradaban Islam dengan kebudayaan (baca juga: Peradaban) Barat masa lalu seakan terlupakan begitu saja, dan dalam perkembangannya, kemudian disubstitusi dengan korelasi budaya serta politik yang diwarnai ketegangan, saling mencurigai dan saling memusuhi.